Kupas Tuntas Tentang Bearing

Kupas Tuntas Tentang Bearing - Halo, kembali bersama kami gensetmitsubishi.xyz - website yang menyediakan kumpulan informasi genset terbaik dan terlengkap., Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Kupas Tuntas Tentang Bearing, kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita bearing, berita kupas tuntas bearing, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Kupas Tuntas Tentang Bearing
good link : Kupas Tuntas Tentang Bearing

Baca juga


Kupas Tuntas Tentang Bearing


Bearing dalam dunia mekanik sangat penting sekali, karena sebagian besar peralatan mekanik adalah benda berputar. Dan kali ini dhevils mechanic ingin membahas masalah seputar bearing. ayuk kita ikuti tulisan ini untuk menambah wawasan kita tentang dunia mekanik.


BEARING :

1. Kata Bearing berarti segala jenis penopang pada poros atau spindle yang berputar. (dibeberapa tempat, kata spindle dipakai untuk poros yang kecil). Juga bisa berarti penopang atau penggiring komponen dari suatu peralatan yang dipasangkan menggelincir pada pada yang lainnya, seperti rel samping pada elevator atau penggelincir pada mesin bubut.

2. Bearing mengekang gerak shaft dan ‘penggelincir’ agar tidak menyimpang kekiri atau kekanan, keatas atau kebawah – melainkan tetap pada porosnya. Dengan bertindak sebagai penggiring, bearing membantu mengontrol gerak komponen yang ditopangnya. Dengan cara itu, bearing juga membantu mengurangi atau menghilangkan getaran yang bisa sangat merusak mekanisme operasi.

3. Dengan mengekang gerak shaft, bearing menjamin pengoperasian shaft yang lebih lancar dan lebih efesien. Bearing membantu pemindahan tenaga kebagian yang membutuhkan – dengan kehilangan tenaga yang minimum. Hal ini membyat seluruh proses pemindahan tenaga menjadi lebih efesien.


TIGA JENIS STRES PADA SHAFT YANG DITOPANG OLEH BEARING

1. Torsional Stress atau Twisting Stress (Tekanan Puntir) – stres akibat akibat gerakan memuntir (Torsion) terhadap shaft.

2. Bending Stress (Tekanan Membengkokkan) – stres akibat gerakan yang bisa membengkokkan (Bend) shaft.

3. Axial Stress (Tekanan Sumbu) – stres akibat tekanan sumbu (Axis) terhadap shaft.

STRES YANG DAPAT TERJADI PADA SHAFT

Pada umumnya ada tiga jenis stres yang dapat terjadi pada shaft yang ditopang oleh bearing. Torsional Stress – menyebabkan shaft terpuntir ketika diputar (Gambar 20.1). Kita tidak dapat melihatnya, tapi hal ini benar-benar terjadi. Setiap kali shaft berputar ia terpuntir sampai kesuatu tingkat dimana bertahan – tidak berobah. Bilamana ia berhenti berputar, Torsional Stress lepas dan shaft kembali ke posisi semula. Ketika mesin dihidupkan, puntiran tambahan akan timbul dan menyebabkan stres tambahan. Ketika beban-beban lainnya ditimpakan terhadap sistem tersebut, torsional stress tambahan akan dibebankan kepada shaft motor. Semua stres yang disebut tadi sudah diperhitungkan pada sistem pemindahan tenaga secara keseluruhan dan jarang mendatangkan permasalahan.
baca juga :

Sebuah shaft walaupun ditopag oleh bearing, kadang-kadang dipasangi juga puli atau roda gigi. Berat shaft ditambah bebannya akan menarik shaft keluar dari garis porosnya menyebabkan shaft tersebut menjadi bengkok. Stres jenis ini disebut bending stress. Pada Gambar 20.2 kejadian tersebut dibesar-besarkan agar akibat dari bearing stress terlihat jelas dan dapat dimengerti. Kerusakannya yang ditimbulkannya trelihat pada keausan bearing yang berlebihan, khususnya pada jenis bearing tertentu seperti sleeve bearing.

 Distribusi beban yang benar pada bearing dapat dilihat pada gambar 20.3. Amatilah bagaimana beban menekan kebawah dan didistribusikan pada beberapa bearing ball, yang masing-masing menekan pada outer ring. Kondisi ini terjadi pada saat shaft berputar, bagian-bagian yang menekan beban, dan outer ring tidak bergerak.(Jika inner ring tidak bergerak, beban akan didistribusikan terhadap sepertiga inner ring bagian atas).

Gambar 20. juga menunjukan pola aus yang dapat terjadi di bearing ring dengan outer ring tidak bergerak dan inner ring berputar, atau outer ring berputar dan inner ring nya statis.

Jika ball bearingdupakai untuk menahan shaft yang diberi beban tekan atau aksia (sumbu), beban akan didistibusikan ke sisi-sisi yang berlawanan dari inner dan outer ring, seperti terlihat pada gambar 20.4. Jika kedua beban ini melewati batas, pola aus akan terdapat disekitar pinggir raceway (alur putar), yang dapat menyebabkan bearing rusak.
 Jika ball bearing dipakai untuk menahan shaft yang diberi beban tekan atau aksia (sumbu), beban akan didistibusikan ke sisi-sisi yang berlawanan dari inner dan outer ring, seperti terlihat pada gambar 20.4. Jika kedua beban ini melewati batas, pola aus akan terdapat disekitar pinggir raceway (alur putar), yang dapat menyebabkan bearing rusak.

Bearing housing dibuat dengan sedikit variasi ukuran yang masih dibolehkan, pada diameter luar dan dalam. Jika bearing dipasang sangat ketat ke housingnya atau pada shaft, “pre-loading” (beban awal) akan terjadi.

Jika ini terjadi, elemen yang berputar akan ditekan diantara kedua ring, sehingga akan menambah beban pada permukaan race, dan memperpendek umur bearing. Kondisi ini dapat dilihat pada gambar 20.5. Gambar ini juga menunjukan aus yang disebabkan pemasangan bearing pada housing yang sudah tidak lagi “ bulat”, atau karena tidak sejajarnya outer dan inner ring.

Dapat kita lihat bahwa pemasangan yang benar sangat menentukan daya tahan suatu bearing. Pada saat pemasangan, adalah tidak mungkin mengetahui akan seperti apa bearing tersebut enam bulan kemudian atau lebih. Karena itu setiap fase pemasangan bearing harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Pemasangan yang tidak benar mudah diketahui pada saat bearing dilepasdari shaft, atau saat inspeksi. Bearing yang rusak tidak dapat diperbaiki. Yang bisa dilakukan hanyalah mencegah kerusakan. Demikian pula saat menanggalkan bearing, jangan sampai shaft dan housingnya menjadi rusak.

ISTILAH KERUSAKAN PADA BEARING

Sangat mudah mengatakan “bearing rusak”, namun lebih tepat bila menggunakan istilah yang cocok dan menjelaskan secara akurat jenis kerusakan itu. Jika jenis kerusakan diketahui, lebih mudah untuk menentukan kondisi penyebab kerusakan dengan segera.

Pada saat melakukan inspeksi rutin terhadap mesin, periksa bearing atau housingnya apa berkarat; ring, roller, atau rolling-element seperatornya apakah ada yang pecah, patah atau retak, shiel penyok dan overheating (panas tinggi). Overheating dapat diketahui dari warna bearing yang berubah menjadi gelap. Jika salah satu hal diatas terjadi, bearing tersebut harus dibuang dan diganti dengan yang baru.

Inspeksi visual terhadap komponen bagian dalam dari bearing bersegel (sealed) tidak dapat dilakukan karena shield yang melindungi rolling element (bagian yang berputar) dan seal pelumas apabila dile[as akan merusak bearing. Maka, kondisi bearing jenis ini tidak bisa ditetapkan. Namun demikian, jika bearing menunjukan tanda-tanda karatan atau kelihatan lembab disekitar pinggir seal, putarannya kasar atau berbunyi keras, maka bearing tersebut harus diganti.

Flexing – ‘mengalah’nya logam dibawah permukaan bearing race (alur/jalan bagi element bearing) – merupakan salah satu penyebab utama kerusakan bearing.

Flexing pada logam itu sendiri dapat disebabkan oleh beban terlalu berat, kecepatan sangat tinggi, tidak sejajar dan lain-lainnya.

Secara internal, kekosongan didalam logam menyebabkan permukaan logam tersebut terpisah dari landasannya. Dengan melemahnya permukaan logam tersebut, partikel-partikel permukaan tersebut akan melepaskan diri.

Permukaan race yang pecah dapat menyebabkan flexing semakin parah dan ini mempercepat melemahnya race tersebut. Seiring berlanjutnya proses ini, semakin banyak bagian permukaan yang pecah sampai wilayah penahan beban hancur. ‘Lelah’nya logam seperti itu biasa dikenal dengan istilah “Spalling”(keropos). Lihat gambar 20.6

Spalling dapat pula disebabkan kurangnya pelumasan dan adanya vibrasi antara shaft dan housing. Jika spalling terdeteksi pada suatu bearing yang besar pada tahap awal, biasanya dapat diperbaiki dengan menggerinda bagian pinggir hingga halus. Namundemikian, jika bearing nya kecil, harus diganti.

Scoring (pengerukan) atau scarping (pengikisan pada bearing terjadi dua bagian. Bagian pertama diantara cincin luar (outer ring) dengan housing atau cincin dalam (inner ring) dengan shaft. Scoring disebabkan bearing yang longgar. Bagian kedua adalah antara rolling element dengan race, yang bisanya disebabkan oleh pelumas yang tidak baik atau adanya kotoran didalam bearing, yang menghambat putaran roller, sehingga roller tersebut terseret disepanjang permukaan race.

Sebagian bearing terkeruk hanya pada bagian kontak yang kecil. Hal ini karena hanya sedikit gerakan yang terjadi antara bearing dengan housing, dan ini disebut Fretting Corrosion. Fretting corrosion yang terjadi pada bagian tertentu pada waktu yang cukup lama dapat menyebabkan terbelah atau patahnya outer ring.

Bearing splitting (terbelahnya bearing) dapat juga disebabkan oleh pemasangan bearing pada shaft yang kurang baik. Hal ini terjadi jika diameter shaft lebih besar dari yang ditetepkan oleh pabrik. Jika bearing dipasang pada shaft, akanterjadi tekanan yang cenderung memaksa inner ring. Dalam waktu yang lama kejadian ini dapat menyebabkan terbelahnya inner ring dan bearing menjadi rusak.

Hal lain yang dapat menyebabkan kerusakan bearing adalah Brinelling. Ini didefinisikan sebagai ‘terurai’nya logam karena tekanan yang terlalu tinggi. Biasanya, brinelling kelihatan seperti suatu rangkaian lekukan-lekukan kecil pada bearing race di titik ‘persentuhan’ dengan bearing ring. Lekukan ini sering disebabkan oleh beban yang berlebihan. Brinelling juga dapat terjadi pada saat bearing beroperasi ataupun dalam keadaan tidak beroperasi. Brinelling juga dapat menyebabkan spalling, scoring dan overheating.

Pitting (capuk) atau Scratching (tergores) terjadi bila rolling element tidak berputar dengan lancar diantara kedua ring. Kerusakan ini agak mirip dengan scoring, tapi lebih ringan dan ia disebabkan tercemarnya pelumas oleh benda halus (tepung, pasir dll) kedalam system atau filler (bahan pegisi) yang ada dalam pelumas itu sendiri. Jika filler nya dari bahan clay atau mineral lain, ini dapat merusak bearing karena ia bersifat mengikis.

Diantara banyak penyebab kerusakan bearing, seperti pembebanan yang tidak benar, ketidak sejajaran, kesalahan pemasangan dan lain-lain, kesalahan pelumasan adalah penyebab yang paling umum. Selain itu, banya dijumpai bearing yang bersentuhan dengan kelembaban dan cairan korosifsehingga bereaksi dengan permukaan bearing, menyebabkan kerusakan logam secara kimiawi.

Jika karat hanya terdapat di area yang kecil pada inner atau outer ring, tidak banyak masalah. Karat tersebut harus dibuang dan pakai pelumas yang sesuai untuk mencegah terulangnya pengkaratan. Jika karat terdapat pada race, bearing akan rusak dalam waktu singkat karena spalling.

PROSEDUR PENGERJAAN

1. Lakukan Lock-out / Tag-out terhadap peralatan yang akan dikerjakan.

2. Jika bearing dirancang untuk dipasang dengan sebuah arbor press (mesin pres), maka bearing juga mesti dilepas dengan alat ini . Jika bearing atau shaft terlalu besar sehingga tidak muat pada mesin pres tersebut, pakailah bearing puller (penarik bearing).

3. Jika sulit melepas bearing dari shaft, harus digunakan cara lain. Salah satunya adalah dengan menggunakan lidah api untuk memanaskan bearing, sehingga bearing memuai menambah kerenggangan diantara bearing dan as. Jika cara ini dipakai, lakukan dengan sangat hati-hati supaya lidah api tidak menyambar grease atau pelumas sehingga tidak menimbulkan kebakaran. Selain itu perhatikan juga semua aturan yang berkaitan dengan perlunya meminta “hot work permit”. Jangan lupa memberikan penopang yang memadai pada saat melepas bearing dan shaft.

4. Prosedur pemasanagn merupakan kebalikan dari prosedur yang digunakan untuk melepas bearing.

MEMBERSIHKAN BEARING

Jika bearing dilepas dari suatu mesin, periksalah satu persatu apakah ada bagian yang aus. Jika masih bagus kondisinya, bersihkanlah bearing dengan pembersih yang sesuai dan kemudian dikeringkan. Jika pembersih khusus tidak tersedia, dapat dipakai minyak tanah. Pada saat mengeringkan bearing yang baru saja selesai dibersihkan, JANGAN putar bearing dengan kecepatan tinggi, karena tidak ada pelumas pada bearing yang dapat berfunsi melindungi bearing, Jika dikeringkan dengan udara, arahkan aliran udara sedemikian rupa sehingga bearing tidak berputar.

Setelah bearing bersih dan kering, bearing harus diolesi segera dengan oli ringan dan dibungkus guna melindungi dari debu dan kotoran. Jika bearing tidak dapat dipasang sampai beberapa hari kemudian, atau jika akan disimpan digudang, lumasi bearing secukupnya dan bungkus dengan kertas tahan minyak untuk melindunginya dari debu, kotoran dan kontaminan lainnya.


MEMASANG PLAIN JOURNAL BEARING

Teknik pemasangan bearing yang tepat berbeda-beda sesuai dengan jenis bearing. Misalnya, plain journal bearing biasanya lebih mudah pemasangannya disbanding antifriction bearing. Namun demikian, sangat dibutuhkan kehati-hatian untuk tercapainya kesejajaran pada saat pemasangan, karena kontruksinya yang sudah tetap/bukan tipe yang bisa sejajar sendiri. Kesejajaran yang tepat dapat dicapai dengan menggunakan shim yang diletakan dibawah permukaan bearing. Jika memekai journal bearing dari tipe yang terpisah (split), setengah bagian atas dapat dilepaskan untuk memeriksa kesejajaran setelah dipasang dan dijalankan dalam waktu yang tidak terlalu lam. Inspeksi visual terhadap material bearing dapat juga menunjukan adanya ketidak sejajaran.

Tidak sejajarnya sebuah plain journal bearing biasanya ditunjukan oleh bagian yang mengkilat atau bagian yang aus pada permukaan sebelah dalam. Karena panjangnya, permukaan bearing bagian dalam tidak akan menunjukan aus pada permukaan yang luas, tetapi hanya pada titik-titik konsentrasi beban. Ketidak sejajaran dapat terlihat seperti bagian yang aus pada salah satu ujung dari permukaan bearing bagian dalam, akan sama dengan yang terdapat pada sisi yang berlawanan pada ujung lainnya.

Plain Journal Bearing harus diperiksa cirri-ciri ausnya setelah beberapa jam operasi. Kemudian harus disejajarkan, dan dilumasi dengan semestinya. Prosedur sederhana ini dapat mengurangi problem pada plain journal bearing untuk waktu yang cukup lama.

MEMASANG ANTI-FRICTION BEARING

Pada saat memasang Roller Bearing atau Bball Bearing, ketidak sejajaran mungkin tidak terlihat untuk beberapa waktu karena bearing tersebut bisa menerima ketidak sejajaran yang kecil. Namun demikian, harus diingat bahwa meskipun bearing tersebut kelihatannya dapat beroperasi secara memuaskan dalam kondisi tidak sejajar, daya tahannya tidak akan lama.

Ball bearing atau roller bearing dirancang untuk beroperasi dengan inner dan outer ring masing-masing dipasang pada shaft dan housing. Meskipun hal ini dapat ditempuh dengan beberapa cara, cara yang termudah adalah dengan interference fit antara I. D. (Inside Diamater = diameter dalam) dan O.D. (Outside Diameter= Diameter Luar) dari suatu bearing dengan shaft atau housing. Biasanya bearing dipasang dengan menggunakan mesin fres. Jika alat ini tidak tersedia, bisa digunakan pipa atau sleeve. Bagaimanapun caranya bearing dipasang, pastikan ring yang ditekan harus diberi landasan yang benar. Interference Fit adalah ukuran I.D bearing yang sedikit lebih kecil dari pada shaft; atau ukuran O.D bearing yang sedikit lebih besar dari pada housing. Agar bisa masuk, dibutuhkan ‘campur tangan’ (interference) dengan memanaskan inner ring dan mendinginkan shaft; atau mendinginkan outer ring dan memanaskan housing. Cara lain ialah dengan menggunakan mesin pres seperti disebut diatas.

Jika karena besarnya tidak bisa dimasukan ke mesin pres, gunakanlah bearing puller. Meskipun pada umumnya digunakan untuk melepas bearing, alat ini dapat pula dipakai untuk memasangnya.

Jika area kontak antara inner ring dan shaft agak lurus, ada cara lain untuk memudahkan pemasangan bearing. Bearing yang mempunyai area kontak yang luas dikelompokkan dalam shrink Fit Bearing. Satu cara pemasangan bearing adalah memuaikannya dengan cara memanaskannya. Kemudian dipasang pada shaft pada posisi yang benar dan biarkan hingga dingin. Setelah dingin, bearing akan mengkerut merapat dengan ketat pada shaft. Cara lain untuk melakukan shaft fit adalah dengan mendinginkan shaft dengan es kering, kemudian memasang bearing yang panas. Jika interfernsinya besar (pemasangan ketat), diperlukan cara kombinasi dengan menggunakan panas dan es kering.

PEMASANGAN BEARING

Sebelum bearing dipres ke shaft, beberapa kondisi penting harus sudah disiapkan.

Ø Pertama, kebersihan tempat pemasangan yang sangat perlu untuk mencegah kontaminasi, baik terhadap bagian yang terbuka maupun tertuptup dari suatu bearing.

Ø Kedua, bearing harus ditopang dengan benar dan tekanan dibebankan pada ring yang tepat.

Ø Ketiga, pastikan bearing housing atau shaft tidak tergores, tidak ada serpihan, ke’tidak bulatan’ dan lain-lain yang menggangu.

Ø Keempat, lapisi shaft atau housing dengan oli atau graphite grease untuk memudahkan pemasangan dan juga memudahkan melepaskannya nanti.

Ketika bearing dipres masuk pada tempatnya, bagian dibawah bearing harus diperiksa berulang-ulang apakah terdapat kotoran atau pecahan logam yang dapat mengganjal diantara bearing ring dan housing, atau bearing ring shoulder. Partikel-partikel tersebut kelihatannya bisa diabaikan, tetapi kenyataannya bisa menyebabkan ketidak sejajaran.

Pada shaft yang besar, dengan diameter 10, 12 inci atau lebih, satu serpihan logam berukuran satu atau dua per seribu inci tidak akan terlalu menyebabkan ketidaksejajaran. Tetapi, jika partikel tersebut terdapat dibawah sebuah bearing yang diameternya Cuma satu inci, akan terjadi ketidaksejajaran yang parah.

Pada saat memasangdengan cara penyusutan (shrink fit), ataupun penekanan (press fit) pada shaft atau housing yang terbuat dari aluminium atau magnesium, lakukan dengan ekstra hati-hati, Dalam keadaan apapun, jangan pres bearing dalam keadaan dingin. Pemasangan pada waktu dingin dapat merusak logam dan dapat menyebabkan longgarnya dudukan sehingga bearing ring menggelincir pada housing atau pada shaft. Cara yang tepat adalah dengan memuaikan bearing atau housing, atau menyusutkan shaft.

Setelah bearing terpasang pada shaft atau didalam housing, periksa apakah bearing leluasa berputar. Pertama-tama pastikan tangan anda bersih dan kering. Kemudian pegang bearing ring yang belum terpasang diantara ibu jari dan telunjuk anda, dan koyangka pelan-pelan kekiri – kekanan. Biasanya ada sedikit pergeseran. Periksa apakah bearing leluasa berputar sebelum dipasang. Jika ada bearing lain yang baru, bandingkan keduanya. Lalu putar ring pelan-pelan dengan tangan untuk memastikannya berputar leluasa tanpa tertahan. Jika putarannya keras, tertahan atau tersendat pada bagian-bagian tertentu, periksa apakah ada kotoran atau gangguan lain. Jika putaran tetap tidak bebas, dan tidak ada tanda-tanda shaft sudah tidak bundar lagi atau ada gangguan lain, bearing harus dibuang dan diganti dengan yang baru.

Setelah bearing terpasang dan mesin dikomplitkan, lakukan tes. Dengan menjalankan mesin tanpa beban dalam waktu yang tidak terlalu lama akan dapat memastikan bahwa semua komponen telah terpasang dengan benar.

Pada saat tes bearing berlangsung, periksa apakah bearing berbunyi aneh/bising, suhu tinggi, dan apakah ada getaran. Bunyi dengan nada tinggi, menunjukan kerusakan mungkin terjadi pasa saat pemasangan. Pemasangan yang kurang baik, ketidaksejajaran dan kerenggangan yang tepat (khususnya pada bearing yang memakai pelindung) adalah merupakan sebab lain terjadinya bunyi bising.

Beberapa bunyi yang harus didengar dengan cermat setelah bearing bekerja (dengan atau tanpa beban) adalah : dengkingan tinggi karena adanya gangguan atau kelebihan beban; bunyi dengking rendah sampai menengah karena pemasangan tidak sejajar; bunyi gemertak karena bearing longgar; dan bunyi dalam/berat disebabkan oleh permukaan shaft atau housing yang tidak rata, atau housingnya tidak bulat lagi.

Setelah mesin dinyalakan, dan bearing berputar, suhu bearing mungkin akan naik melebihi suhu operasi normalnya. Ini merupakan peringatan terhadap petugas pemeliharaan, apakah berlebihnya pelumas atau kecepatan operasi uang terlalu tinggi. Jika unit beroperasi dengan beban maksimum, naiknya suhu bearing mungkin merupakan indikasi terlalu tingginya kecepatan operasi atau beban yang berlebihan. Bearing bersegel (sealed) biasanya mempunyai suhu operasi yang tinggi pada saat baru beroperasi, tetapi suhu tersebut akan turun jika mesin terus beroperasi. Jika suhu operasi tidak turun, matikan mesin dan biarkan dingin. Pada saat mendinginkan ini, pelumas cenderung melakukan distribusi kembali pelumas bearing secara benar. Kemudian jika mesin dihidupkan kembali, suhu bearing semestinya tidak panas lagi. Jika masih panas juga, periksa seluruh bagian bearing.

Perhatian khusus harus ditunjukan pada alat pengunci yang dipakai untuk mengamankan posisi bearing pada shaft. Instruksi dari pabrik harus diikuti pada saat mengetatkan alat pengunci, apakah itu sebuah collar dengan setscrew atau berulir, split-inner sleeve dan locknut. Jika tidak ada intruksi khusus, kuncilah dengan tekanan yang cukup, jangan terlalu ketat. Jika ring sudah terkunci pada shaft, tidak boleh diketatkan lagi dengan menambah tekanan/putaran. Jika hal ini dilakukan, inner race dapat bergeser dan membentuk bagian yang tidak beraturan pada alur putar bearing. Jika ada washer pengunci lipatkan keatas untuk mencegah berputar/longgarnya locknut pada saat mesin beroperasi.

MELEPAS BEARING

Cara melepas bearing dapat dilakukan dengan melakukan kebalikan dari cara yang dipakai untuk memasang bearing. Jika bearing dirancang untuk dipasang dengan mesin pres, alat ini pula yang harus dipakai untuk melepas bearing. Jika bearing atau shaft terlalu besar, sehingga tidak muat pada mesin pres, gunakan bearing puller.

Jika sangat sulit melepas bearing dari shaft, gunakan cara lain. Misalnya dengan menggunakan lidah api untuk memanaskan bearing, sehingga bearing memuai, yang menyebabkan bertambahnya kerenggangan antara bearing dan shaft. Jika cara ini dipakai, ati-hatilah pada saat melakukannya agar tidak terjadi kebakaran karena kontak api dengan grease atau minyak pelumas. Gunakan jenis heating torch yang sesuai dan setel apinya untuk memanaskan, tidak untuk memeotong atau membakar. (Jangan gunakan cutting tirch, karena tujuan kita adalah untuk memanaskan-bukan memotong). Jangan lupa menyediakan penopang yang benar untuk melepas bearing dan shaft.


Semoga dapat menambah wawasan kita semua, ditunggu komentar dan diskusinya yaa..


Demikianlah Berita dari kami Kupas Tuntas Tentang Bearing

Sekianlah artikel Kupas Tuntas Tentang Bearing hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Kupas Tuntas Tentang Bearing dengan alamat link https://www.gensetmitsubishi.xyz/2019/07/kupas-tuntas-tentang-bearing.html

0 komentar:

Posting Komentar