Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan

Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan - Halo, kembali bersama kami gensetmitsubishi.xyz - website yang menyediakan kumpulan informasi genset terbaik dan terlengkap., Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan, kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita lifting plan, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan
good link : Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan

Baca juga


Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan


Crane sekarang menjadi equipment utama dalam suatu konstruksi.
Tanpa perencanaan dan pengawasan yang cukup, kecelakaan crane bisa terjadi. Jika sesuatu ada yang salah, konsekuensinya adalah kerusakan property (property damaged) yang juga dapat mengakibatkan kehilangan nyawa pun bisa terjadi (fatality).  dengan perencanaan pengangkatan yang baik, dapat dihindari kejadian - kejadian diatas, karena semua resiko yang mungkin terjadi dapat di mitigasi dengan baik.


 contoh foto crane tipping

Dan Hal - hal apa saja yang harus diperhatikan pada saat kita membuat Lifting plan dalam sebuah project? ikuti terus tulisan - tulisan dhevils mechanic dalam hal pembahasan lifting plan

baca juga :

Macam - Macam Crane Atau Pesawat Angkat

Merencanakan Sebuah Aktifitas Pengangkatan

Load Test pedestal Crane


Satu yang diperlukan untuk melakukan suatu pengangkatan adalah organisasi chart personel yang terlibat, dan ini membutuhkan orang yang kompeten di bidang lifting dan pernah mengikuti kursus2.
Organisasi ini akan menjadi sangat penting apabila lifting operation tersebut dilakukan oleh pihak ketiga (subcont). Misalnya perusahaan konstruksi ingin mengangkat satu vessel kemudian mengundang salah satu lifting spesialis untuk mengerjakannya.


Contoh organization chart versi subcontractor vs penyewa.

Dalam BS7121 dijelaskan bahwa “An appointed person is competent, with sufficient training, technical knowledge and experience, to develop a safe system of work for lifting operations, in order to satisfy the needs of the employing organization”.

Site Visit

Personel yang ditunjuk akan memulai perencanaan dengan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi spec dari owner. Personel tsb akan mengecek ke lapangan untuk kondisi actual sebgai informasi yang dibutuhkan, serta memahami apa yang akan dibutuhkan nantinya.

Site visit pertama, dia akan melihat akses dan point untuk posisi crane dan barang yang akan diangkat nantinya. Kondisi dari ground untuk posisi crane sangat penting untuk dicheck karena ini merupakan pondasi dari seluruh beban yang ada (berat crane dan berat barang yang akan diangkat). Disini dia akan melakukan analisis apakah perlu memakai kayu sebagai bantalan atau cukup meratakan ground yang ada.
Sering dalam lifting crane path ini diacuhkan, tidak sedikit crane tipping disebabkan karena crane path yang kurang.


Crane path sangat diperlukan untuk crane kapasitas besar
Obstruction yang ada pada saat pelaksanaan lifting sangat perlu diperhatikan jangan samapai barang yang diangkat nantinya akan standby lama hanya untuk menunggu untuk membongkar sesuatu yang menghalangi instalasi.


Memperkirakan actual obstruction sangat diperlukan, bukan hanya me-refer drawing lifting plan saja

Yang kedua, personel tersebut akan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan nantinya, yaitu :

Deskripsi pengangkatan,
 barang yang diangkat berupa apa typenya, apakah vessel, framing atau mesin
Berat,
apakah berat bersih dan berat kotornya sudah diketahui, dan pastikan sudah ada penambahan safety factor dan penambahan berat dari hook crane dan rigging arrangement (sling, shackle,etc)
Jumlah crane
 yang dibutuhkan, ada case diman barang tesebut sebenarnya dapt diangkat dengan satu crane, Karena terlalu bnayak obstruction jadi diangkat menggunakan 2 crane.
Dimensi,
 Apakah sudah diketahu letak titik berat dari barang yang akan diangkat nantinya selama dan setelah diangkat.
Lifting points, apakah sudah sesuai lokasi dari lifting pointnya, maksudnya disini adalah apakah nanti barang yang akan diangkat tidak dalam kondisi miring sewaktu diangkat.

The Crane


Setelah memperhitungkan barang yang akan diangkat untuk selanjutnya dalam pemilihan crane yang diperlukan. Contohnya, untuk kondisi tanah yang terlalu lunak untuk mobile cranes, disarankan untuk memakai type crawler crane.
Yang harus diperhatikan tentang crane ini adalah :
Sertifikat yang masih berlaku
Kemampuan dan batas dari setiap jenis crane



Contoh crane chart
Metode crane tersebut bekerja
Dimensi dan berat crane, dalam mobilisasi dan perakitan untuk siap bekerja
Kalkulasi perhitungan kapasitas crane versus berat barang yang akna diangkat.
Pada waktu pelaksanaan check list harus harian sudah ada.

Accessories

Accessories disini adalah wire rope slings, shackle, chain slings, webbing sling, etc. pemilihan aksesori ini harus sesuai dengan kebutuhan dan bebas dari kerusakan (istilahnya certificate valid).



Shackle



Wire Rope Sling
Pemilihan aksesoris ini dibutuhkan masukan dari pihak lain, karena menurut pengalaman saya antara user (rigger) dan engineer harus konsultasi sebelum pelaksanaan sebuat lifting operation. Disini rigger dengan pengalamannya dan sang engineer dengan ilmu teorinya disatukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Hal yang diperhatikan :
The safe working load (SWL) atau working load limit (WLL) dai aksesoris yang akan digunakan.



Tipe aksesoris
Jumlah leg untuk sling
Kesesuaian koneksi antar aksesoris (contoh, shackle dengan sling)
Sudut pengangkatan antara sling perlu dihiting.



Diambil dari berbagai sumber, semoga dapat bermanfaat. ditunggu komentar dan diskusinya untuk menambah wawsan kita jika teman - teman mempunyai pengalaman akan crane dan lifting plan
Lifting plan dibuat sebelum dilakukan pekerjaan lifting atau pengangkatan yang menggunakan alat berat seperti TMC (Truck Mounted Crane), Mobile Crane, Tower Crane, Crawler Crane, dll (dalam contoh kasus disini saya akan ambil penggunaan crane jenis mobile crane ya). Sebelum membuat lifting plan, ada beberapa data penting yang perlu kita siapkan yaitu : dimensi dan berat beban yang akan diangkat jenis dan kapasitas crane yang akan digunakan load chart dari crane yang akan digunakan untuk mengetahui kapasitas angkat crane optimum pada derajat boom,panjang boom yang akan digunakan (working radius), panjang outrigger dan jarak as ke as antar crane dan beban yang akan diangkat). alat bantu angkat (lifting gear) apa saja yang akan digunakan hasil inspeksi crane dan lifting gear (untuk crane dapat dilakukan inspeksi visual,load test (untuk testing ada nya kebocoran pada hydraulic system atau tidak, ada keretakan atau kerusakan pada hook dan wire sling atau tidak, dll (mungkin nanti akan dijelaskan di page berbeda mengenai crane inspection ya teman2 hehe) jika lifting gear seperti chain block, level block, wire rope dapat dilakukan metode inspeksi NDT seperti Penetrant Test atau Magnetic Particle Inspection (MPI) untuk mengetahui ada cacat atau keretakan atau tidak. Lokasi pengangkatan (area yang lapang atau kah ada existing facility di area tersebut) total beban dari lifting gear yang akan digunakan panjang webbing / wire sling yang akan digunakan Setelah data – data tersebut di dapatkan, selanjutnya akan dilakukan pengolahan data untuk menentukan panjang boom yang akan digunakan, dan berat beban yang boleh di gunakan lewat load chart : Jika kita mengambil contoh untuk mengangkat beban misal container atau porta cabin) dengan berat total maksimum 5 ton, kemudian kita akan menggambar nya pada program autocad untuk lebih jelasnya seperti dibawah : Dari program autocad tersebut, kita juga bias mendapat kan berapa derajat kemiringan dari boom atau boom angle dari crane yang akan dilakukan dalam proses pekerjaan pengangkatan tersebut. Tidak hanya boom angle saja, tapi kita bias juga mendapat berapa jarak yang aman antara crane dan mobil pengangkut yang digunakan. Contoh saya mengambil load chart untuk crane KATO kapasitas 25 Ton (yang pernah kami gunakan) : Bagaimana cara membaca load chart tersebut ? berikut dibawah keterangannya ya Setelah kita dapat menggambar rencana angkat dan bisa membaca load chart, kita juga harus menghitung lifting plan tersebut, yaitu dengan cara sebagai berikut : kita harus mendapat data crane : misal crane yang digunakan ialah Crane KATO kapasitas 25 ton beban total yang diangkat : (jumlah antara berat beban utama yang diangkat + berat total lifting gear yang digunakan) yang dikali kan dengan Dynamic Factor diambil dari table di samping. selanjutnya kita harus mengetahui prosentase kondisi crane yang kita gunakan dari hasil inspeksi. jika kita mengambil prosentasi kondisi crane 95 % dikarenakan dari hasil inspeksi crane dinyatakan aman, tidak ada kebocoran huydraulic dan tahun penggunan dibawah 2 tahun, maka kita akan korelasikan perhitungannya dengan beban aman yang ada dalam load chart sebagai berikut: kondisi crane = 95 % berat yang diperbolehkan sesuai load chart = 7.1 ton maka Lifting capacity = 7.1 ton x 95 % = 6.745 ton setelah itu kita harus menghitung Safety Factor untuk lifting activity ini dengan cara membagi lifting capacity dengan Total beban (total beban x DAF), Safety factor = lifting capacity / total load = 6,745 ton / 6,16 ton = 1.09 jika kita mendapat lifting capacity < dari beban angkat maksimal yang diperbolehkan di load chart, maka dapat dinyatakan proses pengangkatan aman untuk dilakukan Drawing lifting plan (tampak samping) Drawing lifting plan (tampak atas)

Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto
Lifting plan dibuat sebelum dilakukan pekerjaan lifting atau pengangkatan yang menggunakan alat berat seperti TMC (Truck Mounted Crane), Mobile Crane, Tower Crane, Crawler Crane, dll (dalam contoh kasus disini saya akan ambil penggunaan crane jenis mobile crane ya). Sebelum membuat lifting plan, ada beberapa data penting yang perlu kita siapkan yaitu : dimensi dan berat beban yang akan diangkat jenis dan kapasitas crane yang akan digunakan load chart dari crane yang akan digunakan untuk mengetahui kapasitas angkat crane optimum pada derajat boom,panjang boom yang akan digunakan (working radius), panjang outrigger dan jarak as ke as antar crane dan beban yang akan diangkat). alat bantu angkat (lifting gear) apa saja yang akan digunakan hasil inspeksi crane dan lifting gear (untuk crane dapat dilakukan inspeksi visual,load test (untuk testing ada nya kebocoran pada hydraulic system atau tidak, ada keretakan atau kerusakan pada hook dan wire sling atau tidak, dll (mungkin nanti akan dijelaskan di page berbeda mengenai crane inspection ya teman2 hehe) jika lifting gear seperti chain block, level block, wire rope dapat dilakukan metode inspeksi NDT seperti Penetrant Test atau Magnetic Particle Inspection (MPI) untuk mengetahui ada cacat atau keretakan atau tidak. Lokasi pengangkatan (area yang lapang atau kah ada existing facility di area tersebut) total beban dari lifting gear yang akan digunakan panjang webbing / wire sling yang akan digunakan Setelah data – data tersebut di dapatkan, selanjutnya akan dilakukan pengolahan data untuk menentukan panjang boom yang akan digunakan, dan berat beban yang boleh di gunakan lewat load chart : Jika kita mengambil contoh untuk mengangkat beban misal container atau porta cabin) dengan berat total maksimum 5 ton, kemudian kita akan menggambar nya pada program autocad untuk lebih jelasnya seperti dibawah : Dari program autocad tersebut, kita juga bias mendapat kan berapa derajat kemiringan dari boom atau boom angle dari crane yang akan dilakukan dalam proses pekerjaan pengangkatan tersebut. Tidak hanya boom angle saja, tapi kita bias juga mendapat berapa jarak yang aman antara crane dan mobil pengangkut yang digunakan. Contoh saya mengambil load chart untuk crane KATO kapasitas 25 Ton (yang pernah kami gunakan) : Bagaimana cara membaca load chart tersebut ? berikut dibawah keterangannya ya Setelah kita dapat menggambar rencana angkat dan bisa membaca load chart, kita juga harus menghitung lifting plan tersebut, yaitu dengan cara sebagai berikut : kita harus mendapat data crane : misal crane yang digunakan ialah Crane KATO kapasitas 25 ton beban total yang diangkat : (jumlah antara berat beban utama yang diangkat + berat total lifting gear yang digunakan) yang dikali kan dengan Dynamic Factor diambil dari table di samping. selanjutnya kita harus mengetahui prosentase kondisi crane yang kita gunakan dari hasil inspeksi. jika kita mengambil prosentasi kondisi crane 95 % dikarenakan dari hasil inspeksi crane dinyatakan aman, tidak ada kebocoran huydraulic dan tahun penggunan dibawah 2 tahun, maka kita akan korelasikan perhitungannya dengan beban aman yang ada dalam load chart sebagai berikut: kondisi crane = 95 % berat yang diperbolehkan sesuai load chart = 7.1 ton maka Lifting capacity = 7.1 ton x 95 % = 6.745 ton setelah itu kita harus menghitung Safety Factor untuk lifting activity ini dengan cara membagi lifting capacity dengan Total beban (total beban x DAF), Safety factor = lifting capacity / total load = 6,745 ton / 6,16 ton = 1.09 jika kita mendapat lifting capacity < dari beban angkat maksimal yang diperbolehkan di load chart, maka dapat dinyatakan proses pengangkatan aman untuk dilakukan Drawing lifting plan (tampak samping) Drawing lifting plan (tampak atas)

Mine coins - make money: http://bit.ly/money_crypto


Demikianlah Berita dari kami Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan

Sekianlah artikel Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Apa Yang Harus Diperhatikan Pada Saat Membuat Lifting Plan dengan alamat link https://www.gensetmitsubishi.xyz/2020/04/apa-yang-harus-diperhatikan-pada-saat.html

0 komentar:

Posting Komentar